Zakat Penghasilan atau Profesi

Istilah fikih yang sesuai dengan zakat penghasilan adalah dengan menggunakan istilah maal al-mustafad. Maal Al-Mustafad adalah harta yang dimanfaatkan oleh seorang muslim dan dimilikinya sebagai kepemilikan baru, yang didapatkan dengan cara apapun asalkan sesuai syari’at. Contohnya adalah pekerjaan yang mendapatkan upah.

Jejak Pendapat Zakat Profesi

– Pendapat Abdullah Ibnu Abbas r.a.

Abu Ubaid bin Sallam meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai seseorang yang mendapatkan manfaat harta, ia berkata, “Ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia mendapatkannya.”

– Pendapat Ibnu Mas’ud r.a.

Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairah bin Barim, ia berkata, “Ibnu Mas’ud memberi kami upah dalam kantong-kantong kecil berisi uang, kemudian mengambil zakat darinya.” Hubairah meriwayatkan, ia berkata, “Ibnu Mas’ud mengeluarkan zakat dari setiap 1000 sebesar 25.”

– Pendapat Umar bin Abdul Aziz

Abu Ubaid menyebutkan bahwa jika seseorang memberi upah kepada Umar bin Abdul Aziz, Beliau mengambil zakat darinya. Apabila Beliau mengembalikan harta-harta yang pernah disita pemerintah, Beliau mengambil zakatnya darinya, dan Beliau juga mengambil zakat dari pendapatan yang dikeluarkan Baitul Maal setelah dicairkan kepada para penerimanya.

                Di antara para ulama, ada yang berpendapat bahwa zakat maal al-mustafad dikeluarkan ketika itu juga saat diterima. Ulama yang berpendapat demikian adalah Az-Zuhri, Hasan, dan Makhul sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hazm, Al-Auza’i, dan riwayat dari Ahmad bin Hanbal.

– Fatwa zakat penghasilan di Indonesia

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan Keputusan No. 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan.

  1. a) Ketentuan umum

                Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan penghasilan adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat, pegawai negeri atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

                Semua bentuk penghasilan halal, wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nisab dalam 1 tahun, yaitu senilai emas 85 gram.

b) Kadar Zakat

  • Pendapat pertama berdasarkan nisab emas (dinar)

Penghasilan profesi dari segi wujudnya berupa uang. Dari sisi ini, ia berbeda dengan tanaman, dan lebih dekat dengan emas dan perak. Oleh karena itu kadar zakat profesi yang diqiyaskan dengan zakat emas dan perak, yaitu 2,5% dari seluruh penghasilan kotor. Sebagaimana Hadits yang menyatakan kadar zakat emas dan perak.

                Contohnya jika harga emas 1 gram setara dengan Rp 500.000,- x 85 gram = Rp 42.500.000,-. Artinya jika seseorang memiliki penghasilan perbulan setara atau minimal dengan Rp 3.600.000,- x 12 = 43.200.000,- maka telah mencapai kadar zakat profesi dan wajib di zakati.

  • Pendapat ke-dua (berdasarkan nisab tanaman)

Nisab zakat pendapatan/profesi mengambil rujukan kepada nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras. Hal ini berarti apabila harga beras per kilogram diasumsikan Rp 8.500, nisab zakat profesi per bulannya adalah 520 x Rp 8.500 =  Rp 4.420.000 per bulan.

Maka itu, apabila penghasilan bersih per bulan mencapai Rp 4.420.000, wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan bersih . Jadi zakatnya adalah 4.420.000 x 2.5% = Rp 110.500,-.

            Akan tetapi kebanyakan masyarakat memakai pendapat pertama yaitu menggunakan kadar emas (dinar) karena perhitungannya emas cenderung stabil dibandingkan kebutuhan pokok.

  1. c) Waktu pengeluaran zakat

                Penghasilan dapat dikeluarkan pada saat diterima jika sudah mencapai nisab. Jika tidak mencapai nisab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama 1 tahun; kemudian zakatnya dikeluarkan jika jumlah totalnya telah mencapai nisab.

Berikut adalah beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai waktu pengeluaran dari zakat profesi:

  • Pendapat As-Syafi’i dan Ahmad mensyaratkan haul (sudah cukup setahun) terhitung dari kekayaan itu didapat
  • Pendapat Abu Hanifah, Malik dan ulama modern, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf mensyaratkah haul tetapi terhitung dari awal dan akhir harta itu diperoleh, kemudian pada masa setahun tersebut harta dijumlahkan dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib mengeluarkan zakat.

                Pendapat ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan Zakat Pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul:lama pengendapan harta)

d. Perhituagan Zakat

Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara:

à Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, setelah penghasilan diterima. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang tidak mempunyai tanggungan/ kecil tanggungannya. Contoh: Seseorang yang masih lajang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% X 3.000.000=Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.

à Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang mempunyai tanggungan. Contoh: Seseorang yang sudah berkeluarga dan punya anak dengan penghasilan Rp 3.000.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.500.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (3.000.000-1.500.000)=Rp 37.500 per bulan atau Rp 450.000,- per tahun.

Leave a Reply