|
TASINO - Ketua Zakat Center
Dalam sebuah pengajian seorang ustadz menyampaikan penjelasan tentang pola sedekah masyarakat kita saat ini. Dengan bahasa yang apik dan teratur, sang ustadz menyampaikan tingkah polah kita dalam bersedekah. “Kalau kita sedang berada di masjid sedang asyik khusyu’ mendengarkan sang khotib menyampaikan khotbah jum’at, kemudian tak berapa lama lewat di depan kita kotak amal. Apa yang kita lakukan?” Tanya ustadz pada para hadirin. Dengan sedikit tersenyum sebagian jamaah yang hadir, menjawabnya dengan; “mengambil uang dari dompet kemudian memasukkannya dalam kotak amal itu”. Namun ada salah satu jamaah yang nyeletuk; “pura-pura tidur, ustadz”, jawabnya enteng. Mendengar celetukan tadi, kontan membuat para hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Dengan santun sang ustadz merespons jawaban dari para hadirin tadi, “para hadirin jujur. Itulah yang kita lakukan. Ada yang langsung bergerak mengambil uang dalam dompet kita, tetapi ada juga yang pura-pura tidur agar tidak malu dilihat kanan kirinya kalau tidak bersedekah memasukkan uang dalam kotak amal yang berada di depannya. Itulah yang kita lakukan”. “Namun kebanyakan yang ngisi kotak atau yang pura-pura tidur?”, tanya ustadz kembali. “Yang pura-pura tidur, ustadz”, jawab hadirin serempak. Suara tawapun kembali menggelegar. “Ya, itulah kita!”, tegas ustadz. “Selama ini, berat diri kita untuk berbagi. Berat diri ini untuk memberi. Berat bagi kita untuk menggerakkan tangan kita mengambil sebagian harta kita untuk sedekah”, tutur ustadz. “Padahal sedekah itu perintah Allah. Dzat yang telah memberikan kita hidup. Dzat yang telah memberikan kesempatan pada kita sehingga hingga hari ini kita masih bisa menghirup udara-Nya dengan leluasa. Dzat yang terus mengizinkan jantung ini terus berdetak. Dzat yang telah memberikan kita harta, pekerjaan, keturunan dan kebahagiaan. Dzat yang senantiasa mencurahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita tanpa henti”, ujar ustadz mengingatkan. “Oleh karenanya pantas hidup kita semakin berat. Seakan tak kuasa lagi menanggung beban kehidupan. Hidup kita kian hari, kian susah. Masalah bertubi-tubi datang menghampiri tak kunjung berhenti ibarat air bah yang terus menerjang. Masalah hidup terus bertambah dan bertumpuk. Itulah kita !!” tegas sang ustadz. “Selama ini kita remehkan perintah dan ajaran-Nya. Semakin jauh kita terlena dengan kenikmatan dunia. Hedonisme dan materialisme menjadi panduan hidup kita. Kita lupakan ajaran-ajaran mulia dari Sang Maha Pencipta. Sifat saling menolong dan membantu telah kita jauhi. Memberi dan berbagi menjadi hal yang tabu kita lakukan. Kita prioritaskan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Sehingga akhirnya kita terperosok dalam jurang kenistaan dan kemunkaran”. “Alih-alih mencari kebahagiaan dunia dengan mengumpulkan dan menumpuk-numpuk harta kekayaan, kesengsaraanlah dunia dan akhiratlah yang akan didapatkan. Karena kebahagiaan dunia dan akhirat hanya bisa didapatkan dengan menunaikan perintah-perintah-Nya, bukan dengan mengumpulkan harta kekayaan dan enggan berbagi dan memberi”, tegas ustadz mengakhiri. |