Login Form



THANKS TO

Pengunjung ke :

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday32
mod_vvisit_counterYesterday34
mod_vvisit_counterThis week103
mod_vvisit_counterLast week266
mod_vvisit_counterThis month257
mod_vvisit_counterLast month1022
mod_vvisit_counterAll8769

Online (20 minutes ago): 1
Your IP: 38.107.191.112
,
Now is: 2010-09-07 12:18

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Resonansi
Menggapai Keberuntungan PDF Cetak Email
Ditulis oleh Toto Aryoto Suswanto   

Bulan suci Ramadhan telah berlalu. Begitu banyak kenangan yang tak terlupakan yang terjadi di dalamnya. Suka duka yang dirasakan di dalamnya. Sebagian dari kita mungkin mengatakan: “awalnya susah sekali untuk bangun malam makan sahur, namun walaupun mulanya sedikit terpaksa, akhirnya lama kelamaan terbiasa juga. Shalat tarawihpun begitu adanya. Walaupun lama, namun banyak orang rela melaksanakannya. Begitu juga ibadah-ibadah sunnah yang lainnya. ”   
    Ibadah-ibadah yang jarang dilakukan di bulan lain, ketika Ramadhan tiba, berbondong-bondong ramai-ramai melakukannya. Sedekah yang di bulan lain berat mengeluarkannya, ketika Ramadhan datang, dengan serta merta sangat ringan melakukannya. Bahkan di bulan mulia ini setiap saat kita sempatkan membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Berbeda dengan bulan-bulan selain Ramadhan, sangat sedikit waktu yang kita luangkan untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an.
Itulah sedikit gambaran tentang aktifitas ibadah yang selama  bulan suci Ramadhan mengalami trend peningkatan. Kualitas keimanan sebagian besar masyarakat menunjukkan grafik meninggi. Namun, apakah setelah Ramadhan meninggalkan kita, aktifitas dan kualitas ibadah kita tetap terjaga dan semakin meningkat atau malah sebaliknya, tak terkontrol dan kian menurun ??.
Bukankah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin ??. Mutu & kualitas ibadah bulan inipun harus lebih meningkat daripada bulan yang lalu, sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan kita jangan sampai kita tergolong menjadi orang yang merugi bahkan celaka dalam kehidupan ini, dimana sebagian dari cirinya adalah hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin atau bahkan lebih jelek dari hari-hari sebelumnya. Mutu & kualitas ibadah di bulan ini tidak lebih baik dari bulan Ramadhan yang lalu bahkan mungkin sampai terjun bebas menurun drastis.
    Kebiasaan membaca dan mengkaji Al-Qur’an yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan jangan sampai terhenti dengan berlalunya bulan mulia ini. Shalat malam yang sudah menjadi rutinitas  di malam-malam Ramadhan, hendaknya terus berlanjut bahkan harus semakin meningkat. Infaq shodaqoh yang sangat ringan melakukannya di bulan Ramadhan, seyogyanya tetap menjadi kebiasaan di bulan-bulan berikutnya bahkan kian meninggi kuantitas dan intensitasnya. Begitu pula ibadah-ibadah lainnya harus terus dipupuk sehingga bisa menghasilkan buah keberuntungan duniawi dan ukhrawi yang kelak bisa dipetik hasilnya untuk bekal menjalani kehidupan abadi.(*)
    

LAST_UPDATED2
 
Sedekah Hadirkan Kebahagiaan PDF Cetak Email
Ditulis oleh Rachmat Fadhila   

 

 

 

 

Tiadalah hari yang dilewati oleh semua hamba

kecuali pada pagi harinya ada dua malaikat yang turun.

Salah satu malaikat itu berkata : “ Ya Allah berilah ganti

kepada orang yang berinfaq “.

Dan malaikat yang lainnya juga berkata :

“ Ya Allah binasakanlah harta orang yang kikir “. ( H.R Bukhori ).

 

Seorang Ahli Ekonomi Barat, Lichard Layard mengungkapkan hasil penelitiannya mengenai hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan dalam sebuah bukunya yang berjudul “Happiness” (2005). Menurutnya, kecukupan materi dan melimpahnya harta benda hanyalah salah satu faktor pendukung saja untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi bukanlah faktor penentu. Ia  mencontohkan bahwa sejak 30 tahun terakhir ini penghasilan ekonomi masyarakat Amerika dan Inggris naik dua kali lipat lebih, namun ternyata justru tingkat kebahagiaan yang dirasakan oleh masyarakat kedua negara tersebut menurun drastis. 

Lalu, sebenarnya apa yang harus kita l

 

akukan agar kebahagiaan menghampiri kita ?           

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari University of British Columbia Kanada membuktikan bahwa kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan (disedekahkan) kepada orang lain. Semakin banyak uang yang disumbangkan (disedekahkan) oleh seseorang untuk menolong orang lain, maka akan semakin membuat si pemberi sedekah bahagia.           

Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan lainnya, Brendan Borrell yang menyimpulkan bahwa “Satu kali memberi (bersedekah) mungkin menjadikan seseorang bahagia dalam sehari, tetapi ketika memberi (bersedekah) ini menjadi sebuah kebiasaan, dampak kebahagiaan yang akan dirasakan oleh orang yang bersedekah itu akan semakin lama”.
 
Penelitian-penelilitian ilmiah ini semakin meneguhkan kebenaran Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang balasan berlipat ganda yang akan Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang gemar bersedekah, baik balasan yang sifatnya materi maupun non-materi, termasuk kebahagiaan dan ketenangan hidup.
(Rachmad Fadila -Divisi Fundrising)

 

LAST_UPDATED2
 
<< Mulai < Prev 1 2 Next > End >>

Halaman 2 dari 2

Random Image

outbont6.jpg

Who's Online

Ada 1 tamu online