|
Songsong Tahun Baru Dengan Mengendalikan 2 Sifat |
|
|
|
|
Ditulis oleh Taufik Hidayat
|
|

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tahun 1430 H telah berlalu dari hadapan kita. Tahun yang penuh dengan kenangan itu telah pergi. Entah itu kenangan baik, indah dan menyenangkan ataupun sebaliknya kenangan yang begitu buruk, pahit maupun menyedihkan. Setiap orang pasti mengalaminya. Apakah kenangan buruk itu lebih banyak, ataukah kenangan indah yang lebih mendominasi. Setiap orang pasti berbeda melaluinya. Banyak yang mencemooh bahwa tahun kemarin adalah tahun kesialan, tahun kebangkrutan, namun banyak pula yang menyanjungnya bahwa tahun yang lalu adalah tahun keberuntungan, tahun kesuksesan. Setiap orang berbeda menilainya. Tahun kesialan dan kebangkrutan disematkan oleh orang-orang yang merasa bahwa pada tahun 1430 H yang lalu, bisnis yang ia jalani mengalami kebangkrutan, usaha yang ia jalani berantakan tak karuan. Harapan mendapatkan keuntungan, tak pernah didapatkan. Bukannya untung, malah buntung. Bahkan hutang menumpuk di mana-mana. Menyikapi keadaan susah seperti itu, tidak sedikit orang yang akhirnya hanya mengeluh, mencaci maki keadaan, bahkan yang lebih parah sampai memaki Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil, Allah tidak menyayanginya, Allah tidak pernah memberinya kenikmatan, dan umpatan-umapatan lainnya, padahal menurutnya ia telah menjalankan perintah-perintah-Nya. Sementara itu di pihak lain, orang-orang yang mengalami kesuksesan dalam hidupnya mengatakan bahwa tahun yang lalu adalah tahun keberuntungan dan kesuksesan. Tahun pembawa hoki, tahun kejayaan. Hari-hari di tahun itu tak bisa dilupakan, karena kemudahan kerapkali datang. Segala apa yang diinginkan, dengan mudah didapatkan. Namun sayangnya, kebanyakan mereka lalai untuk mensyukurinya. Kemudahan yang telah Allah berikan kepada mereka tidak pernah menyadarkan hatinya bahwa itu semua karunia dari Allah. Itu semua anugerah dari Sang Pemberi Rizki yang wajib disyukuri. Mereka lupa bahwa tanpa izin-Nya, semua kenikmatan itu takkan pernah sampai ke tangannya. Bahkan dengan pongahnya mereka berani mengatakan bahwa kesuksesan duniawi yang saat ini diperolehnya adalah murni hasil dari usaha dan kerja keras mereka semata, tanpa ada campur tangan Allah. Dua sifat inilah yang perlu diwaspadai, karena keduanya akan menghantarkan kepada kesengsaraan dan penderitaan yang tak berujung. Dua keburukan inilah yang kalau tak dibentengi dengan keimanan akan tetap melekat dalam diri manusia. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya. Karena sesungguhnya adzab Tuhan mereka, tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)”. ( QS. Al-Ma'arij: 19 – 28 ). Momentum tahun baru ini harus dijadikan sebagai moment introspeksi (muhasabah), apakah di tahun yang lalu kedua sifat jelek manusia (berkeluh kesah dan kikir) itu sudah bisa dijauhi dan dihindari ?, ataukah justru sebaliknya kita terperdaya dan dikuasai oleh kedua sifat buruk itu. Hanya dengan konsistensi (ke-istiqomah-an) yang diiringi kesabaran dalam menjalankan amal kebaikan, kedua sifat buruk yang akan membinasakan tersebut akan menjauh. Konsistensi dalam menjalankan sholat, konsistensi dalam menyedekahkan sebagian hartanya membantu kaum papa dan dhuafa, konsistensi dalam meng-imani hari pembalasan serta senantiasa takut akan adzab (siksa) dari Allah adalah aplikasi kebaikan yang mesti ditebarkan. Dengan memelihara kebaikan-kebaikan itulah kehidupan kita di tahun yang baru ini akan semakin mudah dan menyenangkan. Semoga !!
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
|
Ditulis oleh Toto Aryoto Suswanto
|
|

Bencana tak kunjung berhenti, datang silih berganti menerpa bangsa Indonesia. Tsunami, tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung dan sederet kejadian yang sangat menakutkan, kini bak makanan sehari-hari yang kita konsumsi, hadir setiap hari menemani bangsa ini. Bahkan belakangan ini, gempa bumi sudah tak terhitung lagi berapa kali menggetarkan negeri ini.
Berbagai analisa bermunculan terkait dengan terjadinya bencana-bencana tersebut. Namun sayangnya, analisa ilmiah- logis lebih banyak mengemuka dan dipercaya. Ketika gempa bumi itu terjadi misalnya, tayangan televisi tak henti-hentinya menayangkan komentar dari para ahli gempa. “Gempa bumi terjadi akibat adanya tumbukan dan pergeseran lempeng bumi. Sehingga ketika lempeng bumi itu bertumbukan, maka akan terjadi pergeseran pada lapisan yang ada di atasnya. Oleh karena itulah kemudian terjadilah gempa bumi. Ada siklus ratusan tahun terjadinya gempa. Dan itu adalah fenomena alam biasa. Dan karena Indonesia berada di lintasan lempeng bumi, maka sangat rentan terhadap datangnya gempa bumi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati”, kata kebanyakan pakar dan ahli gempa ketika menjawab kenapa gempa bumi terjadi terus menerus di bumi tercinta ini.
Namun, ketika ditanya mengenai bisakah memprediksi kapan terjadinya gempa ?. Mereka semua menggelengkan kepala. “Belum ada alat yang bisa memprediksi dan mendeteksi kapan gempa akan terjadi di suatu daerah”, kata mereka.
Para pakar dan ahli gempa itu tidak bisa menjawab. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini tak bisa menjawab kapan bencana-bencana itu akan terjadi. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa manusia sangat terbatas. Ilmu yang kita miliki sangat terbatas. Tetapi kenapa kebanyakan manusia masih juga sombong. Mereka angkuh dengan ilmu mereka. Mereka angkuh dengan pengetahuannya. Bahkan mereka berani mengatakan bahwa bencana-bencana itu tak ada hubungannya dengan Tuhan (Allah SWT). Dengan pongahnya mereka bilang bahwa “Itu hanya fenomena alam biasa, siklus ratusan tahun. Tak ada hubungannya dengan murka Allah”. Astaghfirullahaladzim !!!
Padahal kalau kita membuka Al-Qur’an Al-Karim, di situlah terdapat banyak ayat yang merupakan jawaban dari pertanyaan kenapa bencana-bencana itu datang tak kunjung usai. Sebagaimana firman-Nya: “Tidak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. ( QS. Al-Israa: 58 ) (*) |
|
Tamu Agung Itu Telah Datang |
|
|
|
|
Ditulis oleh Yus Aprianto
|
|
Tak terasa waktu berputar semakin cepat. Siang dan malam berganti saling berkejaran. Keduanya silih berganti menyapa kehidupan kita. Hingga tak terasa tamu agung itu kembali mengetuk pintu rumah kita. Tamu yang khusus diutus oleh Allah sebagai penyeka dosa-dosa umat manusia. Tamu spesial yang membawa keberkahan bagi alam semesta. Tamu tak biasa yang khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sangat yakin akan eksistensi-Nya. Tamu luar biasa yang hanya bisa dirasakan fadhilah dan keutamaannya hanya oleh manusia yang dekat dengan-Nya. Manusia yang seluruh hidupnya disandarkan kepada Sang pencipta. Manusia yang tak luruh keimanannya hanya karena godaan dunia. Manusia yang menyadari bahwa hidup ini hanya sesaat sebagai ladang mencari bekal akhirat. Manusia yang tak silau dengan gemerlap dunia. Manusia yang dengan sangat ikhlas memuji Sang Maha Suci. Manusia yang dengan sepenuh hati mengamalkan ajaran-ajaran-Nya. Manusia yang ketika susah maupun senang tetap bergembira mengulurkan tangannya membantu sesama. Manusia yang dalam keadaan apapun tetap ingin meraih cinta-Nya, cinta sejati Sang Pemilik Cinta. Itulah Ramadhan... Tamu agung yang apabila kita bergembira untuk menyambut dan menjamunya, niscaya Sang Maha Pengampun akan memberikan ampunan-Nya kepada kita. Noda-noda yang kian banyak menempel dalam baju kehidupan kita, dengan rahmat-Nya akan kembali bersih seputih-putihnya. Hingga tak nampak bahwa noda itu dulu pernah mengotori pakaian kita. Tamu agung yang ketika ia hadir membawa lipatan pahala bagi yang melakukan kebaikan. Tamu yang di dalamnya telah diturunkan Mu’jizat tertinggi Al-Qur’an. Tamu yang diantara malamnya lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana terbetik dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr: 1-5). Syahrussiyam...engkau telah kembali. Kuatkah hati kami menyambutmu dengan senyuman ?. Ataukah justru malah kekesalan dan cercaan ?. Ya, Allah...ampuni kami jikalau kami tak menyambutnya dengan senyuman. Wahai Sang Maha Pemaaf ...Maafkan kekhilafan kami andai hati kami tak sepenuhnya ikhlas menjamunya. Ya Syakuur, Wahai Yang Maha Mensyukuri...bimbing hati kami untuk senantiasa mensyukuri nikmat dan karunia-Mu. Bersihkan noda-noda kekufuran dalam hati kami. Kekufuran terhadap nikmat yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Jikalau anggota badan ini enggan untuk bertakbir dan bersujud memuji-Mu. Ketika kami ambil hak yang bukan milik kami. Tatkala kami masukkan harta kami yang belum kami sucikan dengan perintah zakat-Mu ke dalam perut isteri dan putra putri kami. Ya Rabbi...padahal kami tahu kalau kami lakukan itu, sama halnya kami jejalkan pada tubuh mereka bara api neraka. Oleh karenanya, dengan tulus kami mohonkan ampunan dan rahmat-Mu. Lindungi dan jauhkan kami dan keluarga kami dari cinta berlebihan kepada dunia yang bisa menyebabkan kami menjadi bahan bakar api neraka. Amin |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ternyata kekayaan adalah ujian |
|
|
|
|
Ditulis oleh Rachmad Fadhila
|
|
Sebulan yang lalu teman lamaku mengajakku pergi ke luar kota, menemaninya berbelanja pakaian. Seorang teman yang menurutku sudah menjadi orang yang sukses. Bayangkan saja dalam usianya yang relatif masih sangat muda, sekitar 30 tahunan, ia sudah memiliki tiga butik pakaian yang letaknya sangat strategis di pinggir jalan protokol. Bahkan ketika ku-tanya status butik-butik itu, dia bilang bahwa tempat itu sudah atas namanya, bukan menyewa atau mengontrak. Subhanallah...luar biasa !!! Teman lamaku yang kini telah menakjubkanku. Padahal dulu ??? (Maaf) ketika sekolah, ia tak hanya minim prestasi namun kerap dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya. Karena selain pendiam, ia sangat tertutup. Bahkan pernah suatu hari, teman-temannya yang terkenal nakal di kelasnya mengerjainya hingga beberapa hari ia tak masuk kelas karena ketakutan. Tapi kini !!! Temanku yang dulu menjadi bahan ejekan telah berubah kondisinya 180 derajat. Berbeda sangat jauh ketimbang beberapa tahun yang lalu ketika ia masih SMA. Mungkin jika kubandingkan dengan teman-teman seangkatanku dulu, saat ini ia adalah orang yang paling sukses dan mapan diantara yang lainnya. Dalam hati, aku bertanya mungkinkah ini adalah contoh dan pembuktian dari firman-Nya dalam QS. Ali-Imran: 26 yang artinya; “Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Lantas apa yang terjadi selepas SMA dulu, apa yang ia lakukan sehingga kondisinya bisa seperti sekarang? Amalan apa yang ia lakukan sehingga hanya beberapa saat saja Allah ganti kesulitannya dengan kemudahan, dan Allah angkat kemiskinannya tergantikan dengan kelimpahan rezeki ? Kemuliaan kini Allah hadirkan atasnya, sirnakan kehinaan yang dulu melekat padanya. Subhanallah, ketika Allah sudah berkehendak, kun fayakun. Lamunanku tak berlanjut saat tangannya menepuk pundakku. “Kenapa engkau melamun ?” Tanyanya kepadaku. Agak sedikit kaget, aku berusaha menjawab seadanya: “oh..tidak !! hanya sedang menikmati alunan nasyid, sangat nyaman berada dalam mobilmu ini”. Sambil tersenyum temanku menimpali ucapanku; “innalillah, bagiku mobil ini adalah ujian bagiku”. Tersentak aku mendengar ucapannya; “kok... Ujian !? Bukankah ini nikmat dari Allah ?” Sahutku keheranan. “Ya, ini memang nikmat dan karunia dari Allah, namun sekaligus ujian bagiku”, jawabnya. Sambil menyetir mobil, ia kembali melanjutkan ucapannya; “Bagiku.. semua yang Allah berikan kepadaku adalah ujian bagiku, kemiskinankah itu atau kekayaan. Apakah ketika Allah uji dengan kemiskinan, aku bersabar dan tetap yakin dengan anugerah-Nya atau tidak. Begitupun ketika Allah uji dengan kekayaan, apakah aku bersyukur serta senantiasa menggunakan kekayaanku untuk mendekatkan diri pada-Nya dengan berbagi terhadap hamba-hamba-Nya yang membutuhkan atau malah kufur dan sombong?. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah akan tambahkan nikmat-Nya ?. Itulah janji Allah”, katanya pelan. |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Saat Jam Tua Itu Mengingatkanku |
|
|
|
|
Ditulis oleh Solihin, Amd.Kom
|
|
Saat pandanganku tertuju pada jam di kamarku. Sebuah jam tua usang yang terpasang di dinding yang juga sudah sangat tua di makan lembabnya sang waktu. Di sana- sini kelupasan cat dan jamur tampak tak bisa luput dari pandangan mata. Cat biru tua pelan-pelan kini berubah menjadi putih kusam melatari jam tua yang terus menggerakkan jarumnya. Bergerak terus tanpa henti melindas segala hal yang tak mau bergerak. Mengganti detik dengan menit, merubah menit menjadi jam, merangkaikan jam menjadi hari, menggabungkan hari menjadi pekan, mengurutkan pekan menjadi bulan, menggerakkan bulan menjadi tahun. Jam tua yang terus setia menemaniku melewati perjalanan hidupku. Masa kanak-kanak berubah menjadi masa remaja, masa remaja telah berganti menjadi dewasa. Tak terasa usiaku kini tak muda lagi. Puluhan tahun kulalui sudah, sejak Aku dilahirkan dulu. Suka duka silih berganti mengujiku. Walaupun ketika duka itu melanda, seringkali keluh kesah melintas dalam hatiku, hingga tak kuasa lisan ini mengadu; “Duh gusti...berat nian beban yang Engkau timpakan kepadaku ini, kuatkah aku menanggungnya ? Sanggupkah Aku menghadapi cobaan ini ? ”. Namun, ketika ku teringat janji-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 286 bahwa; “ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, diriku menjadi tenang kembali. Kegalauan dalam diriku berangsur hilang, tertutupi oleh keyakinan akan firman-Nya. Bahkan aku-pun senantiasa memanjatkan doa keharibaan-Nya, sebagaimana Dia ajarkan melalui kalam-Nya kepada umat manusia; “ Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dari orang-orang yang kafir”. Begitupun sebaliknya, ketika suka dan nikmat itu Allah anugerahkan kepadaku, kadang kulupa akan kewajibanku; bersyukur kepada-Nya !!. Astaghfirullah... Padahal kuyakin bahwa tanpa izin-Nya, anugerah keimanan dan kesehatan, pekerjaan yang menyenangkan, kebahagiaan rumah tangga, kecukupan rezeki dan nikmat lainnya, tak mungkin bisa kurasakan. Dalam hati, ku terus bermunajat memohon ampun kepada-Nya. “Ya Allah, ampuni kami, jikalau selama ini hamba-Mu ini kurang bersyukur terhadap nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Ampuni kami ya Allah.. jikalau ajaran sedekah-Mu sering kami lalaikan karena kami lebih mencintai harta dunia daripada mencintai-Mu. Ampuni kami, Ya Ghoffar ”. Akhir doaku menyadarkanku bersamaan dengan bunyi jam dinding sebanyak dua belas kali. Ketika ku menoleh jam, jarum jam tepat menunjukkan pukul 12 malam. Tak terasa tahun telah berganti. Usia ku kini berkurang satu tahun lagi. Dalam hati, aku berjanji sisa umurku harus ku isi dengan berbagi dan memberi sebagai bukti cintaku kepada-Nya melebihi cintaku kepada ciptaan-Nya, termasuk cintaku kepada harta duniawi. (*) |
|
LAST_UPDATED2 |
|
|
|
|
<< Mulai < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Halaman 1 dari 2 |