PENGHIMPUNAN DANA ZISWAF
| Jenis Dana | Jumlah |
| Zakat | 6.270.000,00 |
| Infak / Sedekah | 11.327.450,00 |
| Wakaf | 915.000,00 |
| BranKas (Infaq Barang Bekas Berkualitas ) | 2.110.000,00 |
| TOTAL | 20.622.450,00 |
| Selasa, 10/04/2012 | |
Mutiara Islam Hari Ini
Nomor Rekening
Pengunjung ke :






![]() | Today | 27 |
![]() | Yesterday | 254 |
![]() | This week | 281 |
![]() | Last week | 1723 |
![]() | This month | 4941 |
![]() | Last month | 7311 |
![]() | All | 70609 |
Your IP: 38.107.179.219
,
Now is: 2012-05-21 04:35
| Akhirnya… Allah Undang Aku |
|
|
|
| Ditulis oleh Toto Aryoto Suswanto | |
|
“Segar sekali rasanya tubuhku ini. Terima kasih ya Allah. Engkau anugerahkan air ini kepadaku, sehingga di pagi ini badanku terasa sangat segar dan bersemangat. Mudah-mudahan badanku tetap Engkau berikan kesehatan sehingga aku tetap nyaman dan nikmat beribadah kepada-Mu”, ucapku dalam hati. Setelah beberapa saat menikmati guyuran air, aku pun bersiap untuk sholat tahajud di musholla kecil rumahku. Kupakai sarung, baju koko dan peci. Dan setelah berwudhu, aku pun langsung menuju musholla. Kugelar sajadah yang sudah kupersiapkan sejak semalam dan ku hadapkan wajahku kearah kiblat. Terbetik dalam hati, “Aku tak akan menyia-nyiakan kembali kesempatan yang telah Allah berikan padaku malam ini, sehingga aku bisa bangun malam seperti ini. Seperti biasanya aku gunakan malam-malam sehabis bangun tidur, khusus untuk “berkomunikasi” dengan Sang Maha Pencipta. Aku khususkan pada malam hari untuk memohon ampun kepada Allah. Aku menyadari bahwa dosaku sangat banyak bertumpuk-tumpuk. Tak terhitung sudah berapa banyak dosa dan maksiat yang telah aku lakukan. Aku pun khususkan, setiap malam untuk memohon kepada Allah agar ridho-Nya melingkupi setiap gerak langkah kehidupanku. Doa-doaku pun terus kupanjatkan kehadirat-Nya. Aku sangat yakin ampunan dan perkenan-Nya atas doa-doaku akan Allah kabulkan, karena aku yakin dengan janji-Nya dalam QS. Al-Israa: 79; ”Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Dengan khusyu’ dan thuma’ninah (tenang) aku pun mengawali “komunikasi” ku dengan Sang Pencipta dengan sholat sunnah taubat 2 rakaat, dengan dilanjutkan sholat tahajud 8 rakaat dengan 4 kali salam. Lalu kututup dengan sholat witir 3 rakaat. Tak terasa jam dinding menujukkan pkl. 04.30 WIB saat aku menyelesaikan sholat witirku. Tak berapa lama saat aku asyik berdzikir, terdengar olehku suara adzan saling bersahutan. “Alhamdulillah, waktu subuh telah datang”, ujarku dalam hati. Aku pun bersiap untuk pergi ke masjid. Setelah berjalan kurang lebih lima menit, kakiku pun sudah masuk di serambi masjid. Setelah sholat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat, aku pun terus memanjatkan doa. Dan tak lama berselang, kulihat muadzin melangkahkan kakinya menuju pengeras suara yang berada di atas mimbar, lalu ia pun mengumandangkan adzan subuh. Setelah sholat sunnah qobliyah subuh, aku pun langsung menuju ke shaf depan merapatkan barisan dengan jamaah yang lain untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Aku pun sangat menikmati sholat subuh kali ini. Bacaan imam yang sangat tartil dan merdu menambah kekhusyu’an sholatku. “Subhanallah, nikmat sekali hidup ini. Benar-benar hati ini jadi tenang”, batinku. Tak terasa air mata meluncur membasahi pipiku dan sedikit mengenai baju koko-ku saat imam di rakaat pertama membaca surat At-Takaatsur; Alhaakumuttakaatsur (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu), Hattaa zurtumul maqaabir (sampai kamu masuk ke dalam kubur), Kalla sawfata’lamuun (Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu), Tsumma kalla sawfata’lamuun (dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui), Kalla lawta’lamuuna ‘ilmal yaqiin (Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin), Latarowunnaljahim (niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim), Tsumma latarowunnahaa ‘ainalyaqiin (dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin), Tsumma latus-alunna yaumaidhin ‘aninna’iim (kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). Jantungku berdegup kencang mendengar sang imam dengan sangat fasih melafadzkan surat At-Takaatsur ini. Aku yang sedikit faham mengenai kandungan surat ini tak kuasa menahan air mata. Dalam hati aku terus berdoa agar Allah tidak menggolongkan aku kedalam kelompok orang-orang yang Allah sebutkan dalam surat At-Takaatsur itu, yaitu para penghuni neraka jahiim, orang-orang yang senang bermegah-megahan dengan harta duniawi, orang-orang yang mencintai dunia secara berlebihan. Kelompok manusia yang mencintai materi melebihi cintanya kepada Allah. Golongan manusia yang sangat riang menumpuk-numpuk harta benda demi kepuasan duniawi. “Ya Rabb … berikan ampunan-Mu, jika selama ini aku masih tergolong menjadi orang-orang yang lebih mencintai dunia daripada cinta kepada-Mu”. “Ya Allah … berikan maghfiroh-Mu, jikalau selama ini tanganku masih enggan untuk memberi”. “Ya Rabb…bimbing aku untuk senantiasa riang memberi dan menyantuni” “Ya Allah…jauhkan aku dari sifat kikir dan enggan berbagi yang akan menjeremuskanku ke dalam neraka-Mu”, batinku terus bermunajat. Ketika rakaat kedua, hatikupun seakan luluh lantak saat sang imam membaca surat Al-Maa’uun; Aroaytalladzii yukadzibubiddiin (Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?), Fadzaalikalladzii yadu’ulyatiim (Itulah orang yang menghardik anak yatim), walaa yakhudhu ‘ala tho’amilmiskiin (dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin), fawaylullilmusholliin (Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat), Alladzii nahum ‘angsholaatihim saahuun ((yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya), alladziinahum yuroo’uun (orang-orang yang berbuat ria), wayamna’uunal maa’uun (dan enggan (menolong dengan) barang berguna). Kian deras air mata membasahi pipiku. Tertegun saat mendengar imam melantunkan surat Al-Maa’uun. Jantungku berdetak semakin kencang seraya berdoa memohon dijauhkan dari sifat-sifat orang yang mendustakan agama; tak menghiraukan anak yatim dan orang-orang miskin, tak mengajak orang untuk berderma membantu kaum papa dan dhuafa, dan selalu riya’ (ingin selalu memamerkan perbuatan baiknya) kepada orang lain serta enggan menolong dengan barang terbaik yang ia punya. Ya Allah…jauhkanlah diri ini dari segala perbuatan yang Engkau haramkan itu”, doaku dalam batin. Selesai sholat, aku pun bergegas kembali ke rumah bersiap-siap untuk sarapan pagi dan pergi ke kantor. Tak berapa lama aku pun sudah berada di depan meja makan dan menyantap menu sarapan pagi favoritku, nasi goreng telor mata sapi yang sedari tadi sudah dihidangkan oleh istriku. Sepuluh menit aku menikmati makan pagiku. Setelah berbincang ringan dengan istri dan anakku, aku pun bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi, seperti biasanya sebelum aku melangkah keluar rumah menuju kantor, aku selalu menyisihkan sebagian uangku untuk ku masukkan dalam kotak infaq Zakat Center. “Mudah-mudahan dengan merutinkan sedekah setiap hari, Allah mudahkan segala urusanku dan Allah lindungi keluargaku dari datangnya musibah dan bencana”, batinku. Seperti biasanya, setiap bulan di jum’at terakhir pimpinan perusahaan menggelar rapat pimpinan yang dihadiri oleh seluruh direksi dan manager. Namun, ada yang berbeda pada pertemuan bulan ini, pimpinan perusahaan menginstruksikan agar seluruh karyawan berkumpul di aula kantor. Banyak yang bertanya ada apa gerangan, kenapa pimpinan perusahaan mengumpulkan seluruh karyawan, padahal biasanya hanya level direksi dan manager saja. “Semoga tidak ada masalah yang besar”, celetukku dalam hati. Tepat pukul 08.00 WIB pertemuan itu dimulai. Setelah menyampaikan perkembangan perusahaan yang menunjukkan tren peningkatan cukup signifikan, pimpinan perusahaan menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh karyawan yang telah bekerja keras mengabdi pada perusahaan sehingga perusahaan yang dipimpinnya mengalami kemajuan yang sangat pesat. “Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para karyawan seluruhnya, sehingga Alhamdulillah pada tahun ini perusahaan ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Oleh karenanya, sebagai balas budi dan penghargaan perusahaan pada seluruh karyawan, seperti tahun-tahun sebelumnya perusahaan akan memilih karyawan teladan untuk mendapatkan hadiah “umroh gratis”. Dan setelah melalui pertimbangan yang matang, untuk hadiah “umroh gratis” ini diberikan kepada…..”, seru pimpinan perusahaan. “Terdengar namaku dipanggil berkali-kali oleh pimpinan perusahaan. Benarkah aku yang mendapatkan hadiah “umroh gratis” dari perusahaan tempatku bekerja?”, tanyaku dalam hati. Tepuk tangan pun bergemuruh di ruangan itu, seolah semakin mempersempit ruangan yang dijejali oleh teman-teman kantorku. Sambil terbengong dan seolah sedang bermimpi, temanku menepuk pundakku “selamat ya, kamu yang terpilih”, ujarnya bangga. “Aku benar-benar kaget dan tak percaya namaku disebut sebagai penerima hadiah “umroh gratis” dari perusahaan, karena biasanya yang terpilih adalah dari level direksi atau manager, tetapi kenapa namaku yang terpilih, hanya seorang karyawan biasa?!”, batinku bertanya. Karena rasa penasaran yang begitu menggebu, aku pun langsung bertanya ke atasanku yang sedari tadi duduk di depanku; “Benar, namaku pak?!, “Ya, benar! Namamu yang disebut”, ujar atasanku.. Teman-temanku pun langsung menyerbu ke arahku. “Selamat ya !!”, teman-temanku berebut menyalamiku. Aku pun langsung bersimpuh, sujud syukur memuji dan mengagungkan asma-Nya. “Ya Allah, terima kasih atas anugerah-Mu ini. Akhirnya Engkau kirimkan undangan-Mu kepadaku untuk bisa beribadah di Masjidil Haram dan bisa berziarah ke makam kekasih-Mu Rasulullah SAW. Ya Allah, terima kasih….Engkau kabulkan doaku selama ini. Engkau kabulkan doa hamba-Mu yang riang beribadah dan bersedekah. Terima kasih ya Allah, Ya mujiibassaailiin”, ucapku penuh syukur.
|
Login Form
Asmaul Husna
Galeri Foto
Polls
Konsultasi Online
| M. Anwar |
| Toto Aryoto S. |










Seperti biasanya hari-hari kumulai dengan bangun malam pkl. 03.00 WIB. Karena sudah terbiasa bangun malam, tak canggung mata ini untuk kubuka. Dengan sangat ringan aku gerakkan tubuh ini untuk menjauhi tempat tidur. Aku pun sudah terbiasa untuk langsung mandi. Kurasakan begitu segarnya badanku saat air di bak mandi kusiramkan.