|
Ditulis oleh Ibu Hj. Andaka Wijaya
|
Berbicara mengenai muallaf di Indonesia, biasanya kita langsung tertuju pada sosok kulit kuning bermata sipit. Memang karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam maka kehadiran muallaf berkulit coklat dan bermata besar “agak terlupakan” bahkan ada kalangan masyarakat yang kurang pengetahuannya terheran - heran, kok ada ya orang Indonesia yang bukan muslim. Kalau muallaf etnis cina lebih “beruntung” karena lebih menarik perhatian, maka kita juga harus memperhatikan muallaf dari berbagai suku di Indonesia ini. Mereka tak kalah beratnya menentang badai. Terkadang karena melihat mereka sama coklatnya dan sama bermata besar, mereka dibiarkan berjalan sendiri, seperti tidak ada persoalan apa - apa. Yayasan Haji Karim OEI yang menyandang nama OEI sering diasosiasikan eksklusif untuk muallaf etnis cina, padahal pengurus dan jamaahnya bercampur baur dari berbagai suku. Dalam arsip kami tertera nama - nama Jawa, Manado, Batak, Timor bahkan “bule”. Nah karena di Cirebon belum ada Organisasi Muallaf “Pribumi”, Nimbrung di Yayasan Haji Karim OEI pun Cincay, lah !!! |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh Ibu Hj. Andaka Wijaya
|
Setelah menjadi Muallaf, tak terhindarkan Kami menjadi sorotan di masyarakat, entah dari kalngan muslim maupun dari agama lama Kami terutama dari keluarga. Dari kalangan muslim, mereka sering menyorot : kok belum sholat 5 waktu? Puasa tidak? Sudah bisa baca Al-Qur’an belum? Sudah bisa baca do’a belum? dll. Dari keluarga sendiri mereka sering mengamati dan sering sengaja mencari kesalahan kami, mencari celah untuk menyalahkan Islam. Kami tidak terlalu menyalahkan mereka karena harus kita akui, informasi yang mereka terima tentang Islam dan “Islam” yang mereka lihat sering berdasarkan prasangka belaka. Para Muallaf juga mempunyai “tugas” ekstra. Mereka tidak hanya mencari keselamatan dunia akhirat untuk mereka pribadi, tetapi bertanggung jawab membawa nama Islam ( setelah memeluk agama Islam mereka bertambah baik atau tidak, _red). Jadi muallaf mempunyai posisi strategis sebagai ujung tombak dakwah. Untuk itu para muallaf harus terus menerus menimba ilmu dan mengamalkannya, tampilkan akhlak yang islami. Tak kalah pentingnya adalah metode pembinaan yang khas untuk para muallaf, suasana kondusif dan persuasif sehingga Muallaf yang belum “jadi” ini selanjutnya berkembang menjadi Muslim/Muslimah hebat. Selamat berjuang, Muallaf !!! |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh Ibu Hj. Andaka Wijaya
|
|
Pemuda muslim lajang bernama Sulaeman The Siu Lim ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Yayasan Haji Karim OEI Cirebon. Sudah lama bujangan lajang ini mendambakan seorang calon istri Muslimah yang baik hati. Suatu ketika, Yayasan Haji Karim OEI pusat di Jakarta mendapat undangan dari Masjid Raya Cikampek dan sekretaris pembina yayasan, Bapak Drs. Yunus Yahya diminta berceramah. Bapak Yunus mengajak serta jamaah dari cabang Cirebon untuk bertemu disana, maka berangkatlah rombongan kami dari Cirebon termasuk Sulaeman. Sejak awal acara, Sulaeman sudah terkesan oleh penampilan suara merdu saritilawah dari Yayasan Haji Karim OEI Jakarta. Bapak Yunus memperkenalkan kepada jamaah masjid bahwa saritilawah tersebut dilantunkan oleh seorang muallaf bernama Latifah Tan Kim Nio “ aduh namanya bagus betul dan sangat feminim “ batin Sulaeman. Sayang sampai acara selesai dan saat mereka kembali ke Jakarta, Sulaeman tidak sempat melihat jelas wajah Latifah, apalagi berbincang - bincang. Maklum Masjid Raya Cikampek sangat luas dan mereka duduk berjauhan. Hanya nama yang indah dan suara Latifah yang masih meninggalkan kesan. Mengetahui gelagat baik ini, kami berinisiatif untuk mengajak Sulaeman menghadiri acara Cermin ( Ceramah Minggu ) yang diselenggarakan setiap hari minggu di kantor Yayasan Haji Karim OEI Jakarta, menjajaki kemungkinan terjalin hubungan lebih erat antara Latifah dan Sulaeman. Sesampainya disana, Sulaeman kebingungan melihat begitu banyak remaja puteri yang juga berjilbab seperti Latifah. Ketika kami mencandai Sulaeman bertanya “Wah, yang mana yang namanya Latifah, yah ?” Giliran kami jadi bengong : “Lho, kamu bersemangat ke Jakarta bukannya sudah kenal dengan Latifah ? “ Akhirnya kami sekenariokan mereka agar bisa berkenalan. Latifah menyebut namanya Latifah Oey Hong Lan, “ Loh katanya Tan Kim Nio “ kata Sulaeman dan kami bebarengan. Oh, ternyata Pak Yunus sendiri tidak hafal nama kecil yang diberikan oleh orang tua Latifah padanya, tapi untuk kepentingan syiar (menunjukan keberadaan Muslim keturunan Cina ) pada waktu di Cikampek beliau asal saja menyebut nama yang kebetulan berkelebat diingatnya, ada - ada saja Pak Yunus ini. Tapi alhamdulillah, bagi Sulaeman nama tidak terlalu pentingTan Kim Nio dan Oey Hong Lan sama bagusnya dan yang penting dia menemukan calon istri yang ternyata juga pandai melantunkan ayat - ayat suci Al - Quran. Tak lama kemudian, keluarga Sulaeman datang untuk melamar dan Alhamdulillah mereka sekarang telah menjadi pasangan suami istri yang berbahagia dan telah dikaruniai seorang putera yang sehat dan lucu. (*) |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh Ibu Hj. Andaka Wijaya
|
|
Tiga bulan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, tibalah bulan suci Ramadhan. Disamping rasa suka cita akan melaksanakan ibadah puasa untuk pertama kalinya, dalam hati terbersit kekhawatiran munculnya gangguan lambung & pankreas yang sejak lama aku derita. Karena keterbatasan pengetahuanku tentang puasa Ramadhan, aku hanya menghibur diriku dengan keyakinan; “masa... Allah tega memberiku penyakit, padahal aku sedang beribadah kepada-Nya”. Alkisah, hari pertama Ramadhan seperti kebiasaanku sebelum memeluk Islam, aku dan suamiku menutup toko dan meliburkan semua karyawan. Hari itu kumanfaatkan untuk liburan ke Bandung. Kebetulan aku dan suamiku ada acara di sana. Malamnya kami menginap di sebuah hotel yang cukup nyaman dan asri. Kepada karyawan hotel, kami sempat menitipkan pesan agar saat sahur tiba kami minta disediakan hidangan sahur sebagai pengganti sarapan. Keesokan harinya, kami terbangun di saat jam dinding menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Dengan semangat kami bergegas mengambil air wudlu. Sambil menunggu pelayan hotel mengantarkan makanan sahur kami berdua kemudian menggelar sajadah untuk sholat sunnah tahajud. Hampir 30 menit kami shalat, namun sang pelayan yang kami tunggu tak kunjung datang. Tentu kondisi ini membuat kami panik. Jantung kami berdegup semakin kencang, khawatir waktu imsak keburu datang sementara kami belum makan sahur. Ketika jam menunjukkan pukul 04.05 tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintu kamar. Setelah kami buka, ternyata sang pelayan hotel yang kami tunggu-tunggu datang. Sambil meminta maaf karena terlambat mengantarkan makanan, ia masuk menaruh hidangan sahur tersebut di atas meja. Namun, sebelum pelayan itu pergi melangkahkan kaki keluar dari kamar, sayup-sayup terdengar sirene tanda waktu imsak telah tiba. Tentu kami sangat terkejut mendengar sirine tersebut. Karena pengetahuan kami tentang puasa masih sangat minim, tentu kami tak berani menyantap hidangan di depan kami. Kami belum tahu bahwa sebenarnya kami masih bisa memakan hidangan sampai waktu subuh tiba, karena waktu imsak hanya sebagai tanda awal saja agar kita mulai meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa. Rupanya pengetahuan pelayan hotel juga masih minim seperti kami, karena tidak menyarankan kami untuk makan dan minum secukupnya. Jadilah puasa pertama kami tanpa bekal makan sahur. Akan tetapi, hal itu tidak menghalangi niat kami untuk berpuasa. Dengan mantap kami pun melanjutkan puasa kami. Walaupun setiap selang satu jam, hatiku terus bertanya; “kuatkah aku berpuasa sampai maghrib tiba?”. “Alhamdulillah, tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 17.30 saat mobilku tiba di garasi rumahku karena hari itu juga kuputuskan untuk kembali ke Cirebon. Hanya rasa syukur yang bisa kupanjatkan kepada-Nya karena Allah menguatkanku menjalani ibadah puasa hingga kumandang adzan maghrib terdengar. Gangguan lambung dan pankreas yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. Allah berikan kesehatan padaku. Terima kasih ya..Allah, Sang Maha Penyembuh. Terima kasih..”, Ucapku dengan penuh syukur. Setelah mengkaji agama Islam lebih mendalam antara lain mendengarkan ceramah dari Prof. Dr. Hembing Wijayakusuma, pakar kesehatan dan juga muallaf, aku jadi tahu bahwa ternyata ketika kita berniat berpuasa maka otak memerintahkan kepada pencernaan kita untuk bersiap-siap tidak mendapatkan pasokan makanan sehingga tidak bekerja, antara lain tidak memproduksi asam lambung yang menyebabkan gangguan pencernaan. Subhanallah, begitu menakjubkannya Islam agama baru yang kami imani. Dalam perjalanan waktu bukan hanya tentang puasa, kami terus menerus menemukan hal-hal yang menakjubkan dalam Islam, ternyata Islam bisa menjawab semua masalah dalam hidup ini. Agama yang sempurna, seperti yang Allah jamin dalam surat Al-Maidah: 3, yang artinya: ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kamu”. (*) |
|
LAST_UPDATED2 |
|
|