Category Archives: Kisah

kisah nyata : DALAM SODAQOH JODOH BERSEMAYAM

Category : Kisah , ZC-Team

Dalam beberapa kesempatan kami bertemu dengan orang-orang hebat, salah satunya bercerita tentang kehidupannya, beliau kini  berusia 27 tahun dan sedang bekerja di salah satu instansi milik pemerintah di Cirebon. Secara materi dan kehidupan boleh dibilang telah mapan, namun ada yang kurang bagi beliau yaitu adalah pendamping hidup.

Beliau sudah beberapa kali mencoba namun masih belum berhasil menemukan yang cocok. Hingga akhirnya zakat center mendatangi instansi tersebut dengan maksud sosialisasi mengenai zakat, infaq, sodaqoh dan wakaf (ZISWAF). Beliau merupakan salah satu pesertanya walaupun dalam kesibukan yang teramat tapi beliau tetap memperhatikan apa yang tim zakat center sampaikan. Di akhir pertemuan tim zakat center berbincang-bincang dengan masing-masing karyawan instansi tersebut, salah satunya beliau.  Beliau menanyakan seluruh program yang ada di zakat center, kami pun menjawab sesuai dengan pertanyaannya dan beliau sangat tertarik pada salah satu program yaitu KOMAR (kotak amal masuk rumah/kantor) dan infaq griya tahfidz.

Saat itu juga beliau langsung mendonasikan sebagian pendapatannya untuk program Griya tahfidz, seperti biasa tim zakat center saat ada donatur yang mendonasikan sebagian hartanya, tim zakat center mendoakan untuk keberkahan harta yang masih tersisa dan doa khusus permintaan donatur kebetulan beliau meminta kami tim zakat center untuk mendoakan agar secepatnya bisa mendapakan pasangan hidup (jodoh).

Satu bulan berjalan, kami datang kembali ke instansi tersebut karena hari itu jadwalnya pengambilan donasi, kami pun bertemu dengan beliau dan menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada zakat center karena berkat doa dalam sodaqoh yang diberikan, tak butuh waktu lama jodoh pun mendekat (subhanallah,Allahu Akbar) karena saat itu beliau sudah mulai taaruf dan di bulan yang sama beliau berniat untuk mengkhitbah dan dalam waktu dekat juga Insya allah akan di langsungkan pernikahannya. Keyakinan beliau pun semakin bertambah bahwasannya taka ada ruginya untuk berbagi walau hanya sedikit, namun sebagai rasa syukur atas kebahagiaannya sodaqoh beliau selalu bertambah setiap bulannya.

Dan dibulan Maret 2018 ini telah berlangsung acara pernikahanyya…subhanallah…

Luar biasa, sodaqoh yang nilainya tak seberapa itu ternyata merupakan salah satu solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi. Hmmm… jangan sungkan untuk bebagi yukkkk

Semoga bermanfaat….


Sedekah Menentramkan Hati..!!!

Category : Kisah , Motivasi , ZC-Team

Saya seorang pendosa,dan saya dikejar-kejar oleh dosa itu. rasa penyesalan ini tak pernah hilang dalam hati, selalu membayangi diri disetiap waktu. hati dan otak saya penuh dengan rasa takut yang amat sangat terhadap azab allah, sehingga membuat saya stres berat. namun saya selalu mendekatkan diri pada allah, seraya selalu berdoa memohon ampun atas dosa-dosa besar yg aku lakukan,dan memohon petunjuk. YA..ALLAH saya harus bagaimana..?, suatu hari saya pergi ngak tau mau kemana, pikiran saya kosong, lalu saya berhenti di suatu daerah yg lagi tertimpa bencana banjir, spontan saya langsung ingin membantu mereka, dengan memberikan bantuan makanan dan air minum, memang tidak seberapa yg saya beri. Namun sambutan yg saya terima luar biasa , salah satu bapak-bapak yg ada disana mengatakan, ‘DI BANTU DOA YA MAS’ seketika itu saya meneteskan air mata dan berlalu pergi. setelah itu hal yg luar biasa terjadi pada saya, saya berangsur-ansur menjadi lebih tenang, lebih yakin atas ampunanan ALLAH dan semenjak itu ALLAH selalu memberikan petunjuk pada saya,semakin mantab hati ini, bahwa saya akan diampuni jika pertaubatan saya sunguh-sungguh.

Di dalam ayat-ayat Al Qur’an banyak sekali ayat yang membahas bahwa semua yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri (salah satunya adalah “kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(surat Al Isra’:7)). Maka selalu ada risiko dari setiap perbuatan. Maka apa yang terjadi adalah untuk kebaikan kita, karena Allah sayang pada kita dan Allah ingin kita belajar untuk lebih baik.

 


KISAH NYATA SEORANG PENJUAL KAMBING KURBAN YANG MENANGIS

Category : Kisah , ZC-Team

Setahun sekali, melalui Idul Adha ini, bagi umat muslim yang mampu diperintahkan untuk berkorban dengan bentuk pengorbanan binatang, baik itu sapi maupun kambing.

Syariat ini besrasal dari peristiwa pengorbanan hewan yang biasa dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Ibrahim memang suka berkurban dengan ratusan bahkan ribuan hewan ternak yang dimiliki sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.

“Jangankan harta, anak pun akan kukorbankan kalau itu perintah Allah,” demikianlah kalimat yang Nabi Ibrahim keluarkan ketika diatanya oleh umatnya.

Lantas, apakah kita yang memiliki kemampuan secara materi sudah mengeluarkan sedikit dari harta kita untuk berkurban? Semoga kisah berikut ini bisa memberi kita kesadaran tentang berkurban.

Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan kurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.

Inilah penuturan kisahnya:
Idul adha kian dekat. Semakin banyak orang yang mengunjungi stan hewan kurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan kurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.

Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berkurban.

Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.
“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?”

“Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.

“Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu.

“Harga pasnya berapa?”

Wah, ternyata ibu itu nawar juga.

“Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau.”
“Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah.

Ibu ini benar-benar serius mau berkurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berkurban.

“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.

Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah. Allaahu akbar.” Aku terperanjat.

Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah.

Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya.

Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.

“Emak, lihat apa yang Sumi bawa,” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu.

Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berkurban.”

Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah. akhirnya kesampaian juga Emak berkurban. Terima kasih ya Allah.”

“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat kurban atas nama Emak,” kata Bu Sumi.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati.

“Ya Allah. Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya.”, panggil ibu itu.

“Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berkurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan.

Kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan.

Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing kurban. Tapi sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan kurban?

Jika kita sebenarnya mampu berkurban, tapi tak mau berkurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berkurban namun dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim). (sumber muslimahcorner.com)


Menunaikan Ibadah Haji Dengan Bayaran Sedekah

Category : Kisah , ZC-Team

500view_16_source_660x502.htmlKisah ini dimulai, Ada seorang tukang becak, yang sudah cukup sepuh (tua), beliau tinggal di daerah Dinoyo (Malang, Jatim).

Setiap hari Jum’at, ia menggratiskan tarif becaknya, dengan niat shodaqoh..
Suatu kali, pada hari Jum’at, ada seorang pria bapak-bapak yang jadi penumpangnya.

Pria itu berjalan terburu-buru naik becak dan hanya diantarkan dengan jarak dekat saja, tanpa tawar-menawar, pria itu langsung menyodorkan uang Rp. 20.000,-, untuk membayar becak. tetapi sang bapak becak itu langsung menolaknya dengan halus, dia bilang :

“Kulo ikhlas Pak, pun usah dibayar, kula sagete shodaqoh nggeh ngeten niki..”(Saya ikhlas Pak, sudah jangan dibayar, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini..).

Si penumpang pun kaget, tapi karena terburu-buru, Pria itu langsung pergi begitu saja, setelah mengucapkan terima-kasih.

Pekan berikutnya, pada hari jumat pula, Pria itu bertemu lagi dengan tukang becak yang sama pada Jum’at lalu. Setelah diantar ke tempat tujuan, Pria itu menyodorkan uang Rp. 200.000,-, atau 10x lipat dari shadaqoh tukang becak Jum’at lalu, untuk tarif becaknya.

Tukang becak yang sudah sepuh ini pun menjawab dengan tenang : “Insyaallah, Kulo ikhlas pak.. Kulo sagete shodaqoh nggih namung ngeten niki,, ngateraken tiyang.”(Insyaallah Saya ikhlas Pak, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini, mengantarkan orang).

Karena merasa aneh, Pria yang menumpang itu bertanya : “Lah kalau begini terus, Istri, dan anak bapak makan apa.!? Kenapa nggak mau dibayar..?!”

Tukang becak itu pun menjawab : “Alhamdulillah, Rayat kulo nggih sami ikhlas menawi saben Jum’at kula shodaqoh ngeten niki.”(Alhamdulillah, Istri saya pun sama-sama ikhlas jika tiap hari Jum’at saya bershodaqoh dengan cara ini..)”

“Oh,, jadi Bapak nggak mau di bayar pada hari Jum’at saja..!?” Tanya si penumpang memastikan.

“Nggeh, Pak”

“Rumah bapak dimana?” Tanya penumpang penasaran..

“Wonten Dinoyo Pak, wingkingipun bank” (Tinggal di Dinoyo Pak, sebelah belakang bank)

Hari pun berlalu, dan di hari Jum’at berikutnya, Pria penumpang becak yang penasaran ini mencari rumah Tukang becak itu. Setelah menyusuri gang sempit sebelah gedung bank di daerah dinoyo, akhirnya Pria itu ketemu juga dengan rumah sederhana milik Tukang becak yang di carinya.

Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.

Hatinya tergetar, batinnya menangis. betapa selama ini, ia yang sangat di cukupi kebutuhannya oleh Allah Azawajala malah jarang bersimpuh kepada-Nya. Jangankan sedekah, dan sholat dhuha, sholat wajib saja masih sering ia tinggalkan..

Ia pun mencium tangan wanita tua itu, lalu meminta izin untuk meminjam KTP bapak, dan ibu sekalian.

“Bapak tasik siap-siap badhe sholat Jum’at, niki KTP-ne damel nopo nggeh ?” (Bapak masih melakukan persiapan untuk sholat Jum’at, ini KTP nya, kalau boleh tau buat apa ya ?) jawab bapak tukang bejak

“Bu, bapak, dan juga ibu telah membuka mata hati saya. Ini mungkin jalan hidayah yang telah Allah Azawajala anugerahkan kepada saya.

Insyaallah, Bapak, dan Ibu saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya, dan istri, mohon di terima ya, Bu/Bpk..”

tukang becak



Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/advercom/public_html/zakatcenter.org/wp-includes/functions.php on line 3743