Monthly Archives: Februari 2019

WAKAF PEMBEBASAN LAHAN UNTUK KAUM MUALAF SEKOLAH

Category : WAKAF , ZC-Team

Kampung Mualaf yang berlokasi di Desa Cibunut Kuningan kini menjadi perhatian utama kami pasalnya dilokasi ini belum terdapat sekolah untuk tempat belajar menimba ilmu anak-anak mualaf.

Mari kita patungan  untuk pembebasan lahan guna mendirikan sekolah untuk kaum mualaf…semoga dengan ini bertambah keyakinan dan iman mereka dab buat kita semoga Allah catat sebagai Amal jariyah untuk bekal di akhirat nati.

Peluang Amal Jariyah
Dicari 1000
Dermawan Wakaf

untuk ikut membebaskan tanah untuk Sekolah Mualaf di Cibunut Kuningan

Wakaf tanpa batas mulai dari Rp 10.000, Rp 25.000, Rp 50.000 atau semampunya…

 

sedikit yang anda berikan akan membebaskan dan menjadikan anak-anak kaum mualaf pintar dan sholeh.

Lokasi Pembebasan Tanah:
kampung Mualaf, Cibunut-Kuningan


khitanan Massal dan Santunan bersama Bank BTN Syariah Cirebon tahun 2019

Category : ZC-Team

(24/02/2019), Bekerja sama dengan zakat center, dalam rangka Milad BTN syariah Cirebon mengadakan acara santunan dan khitanan massal untuk Duafa dan yatim. Sebanyak 13 anak berhasil dikhitan dan diberi santunan serta bingkisan berisi ATK dan Baju Muslim.

Acara ini diadakan sangat sederhana, namun tanpa mengurangi kemeriahan yang ada karena antusias dari seluruh peserta beserta keluarganya serta para panitia yang dengan ikhlas memberikan tenaga mereka untuk acara ini.

Sebelum acara khitanan, ada acara sambutan dari kepala Cabang Bank BTN syariah Cirebon dan Direktur zakat center.

Alhamdulillah wa syukurilah acara “santunan khitanan massal” berjalan sangat lancar, acara yang dimulai jam 10.00 WIB dan selesai.

kami haturkan banyak-banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam acara Khitanan massal dan santunan yang diadakan oleh Tim zakat center dengan Lazis bank BTN syariah Cirebon.🙏😊

ZC-Team


Memaafkan Dalam Islam Dianggap Lebih mulia

Category : ZC-Team

“Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu.Dan Allah juga telah mengutus kepada malaikat penjaga gunung untuk melakukan apa saja yang engkau kehendaki!”. Maka Malaikat penjaga gunung pun berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam., “Wahai Muhammad, kalau engkau berkenan aku akan menimpakan Al-Akhbasain (dua gunung besar yang ada di Makkah, yaitu gunung Abu Qubais dan Gunung Al-Ahmar) kepada mereka.”

Namun tak disangka, jawaban Nabiullah Muhammad justru sebaliknya;

لَا بَلْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، وَلَا يُشْرِكُ ِبهِ شَيْئًا

“Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga.” [HR. Muslim]

***

Begitulah pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam, tauladan umat Islam sedunia.

Betapa besar kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kepada umatnya. Bayangkan jika yang menemani itu adalah kita, betapa sakit dan marahnya perasaaan Zaid bin Haritsah ketika Nabi dicerca dan dilempari batu oleh penduduk Thaif?

Untungnya yang menjadi Rasul adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Coba seandainya kita, mungkin sudah memerintahkan malaikat mengangkat gunung.Itulah gambaran sifat pemaafnya Rasulullah Shallallahu “Alaihi Wassallam, meski beliau disakiti dan dianiaya oleh umatnya sendiri.

Amalan Berat

Pemaaf adalah sifat yang sangat terpuji yang Allah sifatkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Karena beratnya amalan ini, sehingga Allah Subhanahu Wata’ala mengutip secara khusus dalam Surat Ali Imron ayat 133-134;

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Sudah jamak dalam kehidupan kita, meminta maaf dan memaafkan adalah pekerjaan yang maha berat. Meski sudah menyadari kesalahan namun meminta maaf kepada mereka yang telah didzalimi dan disakiti bukan perkara yang mudah.

Ada semacam ego atau gengsi yang mencegah seseorang untuk mengatakan, “Aku minta maaf, aku telah bersalah.”

Terkadang orang lebih suka melakukan apa pun yang lebih sulit daripada meminta maaf. Dan ini merupakan salah satu bentuk kesombongan karena ia merasa sedemikian mulia sehingga malu dan tidak bersedia untuk minta maaf.

Sebaliknya, meski bisa menahan sakit akibat kedzaliman orang lain, memberi maaf juga bukan perkara yang mudah. Ada semacam rasa sakit yang tergores yang seakan-akan tidak bisa lepas dari ingatan dan akan senantiasa membekas.

Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang berlapang dada dan pemaaf.
Sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bahwa manusia adalah tempat salah dan dosa. Memberi maaf orang atas kesalahan yang mungkin tidak disengajanya termasuk keutamaan tersendiri bagi orang yang tersakiti. Rasululllah bersabda,
ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)

Rasulullah juga menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah Surga. Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Abbas;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ ” .

“Kelak pada hari kiamat, ada pemanggil yang menyeru, “Dimanakah orang-orang yang memaafkan orang lain? Kemarilah kepada Rabb kalian dan ambillah pahala kalian!” Dan wajib bagi setiap muslim bila suka memaafkan maka Allah masukkan dia ke dalam Surganya.”

Islam mengajarkan pada umatnya bahwa memberi maaf tak menunjukkan seseorang itu lemah karena tidak mampu membalas. Sebab memaafkan orang lain terutama seseorang mampu membalas merupakan kemuliaan karena ia belajar dari sifat-sifat Allah, yaitu Al-‘Afuwwu Al-Qoodiru (Yang Maha Memaafkan dan Maha Berkuasa).

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ ”

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangnan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).


Amal Yang Di Bawa Mati

Category : ZC-Team

“Setiap jiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali ‘Imran: 185)

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seseorang meninggal dunia,maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh” (HR.Muslim )

Diriwayatkan dari imam Bukhori dan imam Muslim. Tentang perkara yang berkaitan dengan simayit.

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ؛ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ؛ فَرَجَعَ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، رَجَعَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Artinya : “Tiga perkara yang akan mengantarkan seorang mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang sedang pergi atau yang sedang numpang lewat.”

Hidup dan mati adalah sebuah ujian ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيم.

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.at-Taghobun[64]:14)

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir  berkata, Allah SWT. Berfirman memberitakan tentang istri-istri dan anak-anak , bahwa sebagian dari mereka ada yang menjadi musuh bagi seorang suami dan ayah. Maksudnya, dikarenakan istri dan anaknya seseorang bisa melalaikan amal shaleh.

مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ.

Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. “ (QS.Fushsilat [41]:46)

Allah SWT. Berfirman dalam Al-qur’an dalam surat Ar-Rum:

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ.

Artinya :

“Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),”(QS.ar-Rum [30]:44)

Rosululloh Saw. Bersabda :

“ Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya mayat itu mendengar ketukan alas kaki mereka ketika pulang. Jika dia seorang mukmin, maka sholat akan berada diatas kepalanya, zakat disebelah kanannya, puasa disebelah kirinya, perbuatan baik ma’ruf dan ikhsan kepada manusia berada diarah kakinya. Ketika hendak didatangi dari arah kepalanya, Sholat segera berkata. “Tidak ada pintu masuk dari arahku.” Kemudian Beliau menyebutkan seluruh amal yang lain seperti itu juga. Adapun tentang orang yang kafir, beliau bersabda, “Ia didatangi dari semua arah ini, maka tidak ada satupun yang menjaganya disana. Maka, dia didudukan dalam keadaan takut dan gemetar.”(HR.Ibnu Hibban, Abdur Rozaaq dan al-Hakim)

Amalan Orang Hidup Yang Bermanfaat Bagi Si Mayit ?

Karena kemurahan dan karunia Allah SWT, seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amal yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amal orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang masih terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:

  1. Shadaqah jariyah, contohnya wakaf dan sejenisnya.

Seorang akan terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, jalan atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah menyatakan:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍصَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya :“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

  1. Ilmu yang bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus – menerus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah tiada, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah SAW juga menjelaskan:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Artinya : “Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra )

Beliau Rosulullah SWA  juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya : “Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah )

  1. Shadaqah yang dilakukan anak atas nama orangtuanya

Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orang tuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah l berfirman:

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩

Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah iusahakannya.” (An-Najm: 39)

  1. Doa kaum mukminin

Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah l:

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ١٠

Artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)

Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya melaksanakan shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah SAW berkata:

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ

Artinya: “Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah)

Beliau Rosululllah SAW juga bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوافِيهِ

Artinya: “Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.” (HR. Muslim)

Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.

  1. Pembayaran hutangnya walaupun dilakukan bukan oleh ahli warisnya

Adapun utang-piutang, seorang boleh membayarkan hutang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban hutang tersebut. (bisa Lihat kitab Ahkamul Jana’iz hal. 212-226



Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/advercom/public_html/zakatcenter.org/wp-includes/functions.php on line 3778