ZC-Team

MENGGAPAI KEBERKAHAN DI HARI RAYA IDUL FITRI

OLEH ; EVI ARIYANI

Setiap muslim di seluruh penjuru dunia menantikan hari raya Idul Fitri yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah suka cita. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang dalam menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri. Dalam Idul Fitri ditandai dengan adanya istilah “mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia serta bingkisan-bingkisan yang dijual menjelang Idul Fitri. Selain itu, kerap ditandai dengan mereka yang memakai sesuatu yang serba baru, baik itu pakaian baru, sepatu baru, bahkan barang-barang mewah yang baru. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna di balik Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?. Lalu buah apa yang kita peroleh saat mendapati hari Idul Fitri.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Merayakan hari raya Idul Fitri memang dibenarkan bahkan di sunnahkan, tapi tentu saja harus dirayakan dalam kadar yang wajar dan tidak berebihan. Dikhawatirkan terlalu terbuai dalam perayaan malah akan menghilangkan esensi dari Idul Fitri itu sendiri.

Idul Fitri merupakan hari raya umat Islam sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan. Idul Fitri juga diartikan sebagai “kembali ke fitrah”,  karena manusia pada hari itu kembali ke fitrahnya, laksana seorang bayi yang baru lahir yang tidak mempunyai dosa dan salah. Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan, karena pada hari itu seluruh kaum muslimin dan muslimat baru saja berhasil “mengalahkan diri sendiri” dalam menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu menahan hawa nafsu melalui ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukan. Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Menang karena melawan nafsu dan setan tidak berhenti dengan hadirnya Idul Fitri, tetapi berlanjut selama hayat dikandung badan karena nafsu dan setan menyertai manusia selama hidupnya dan setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia dari arah kiri dan kanan; atas dan bawah menyesatkannya sampai dengan detik terakhir dari hayat manusia (QS. al-A’râf [7]: 17). Untuk itu, mari kita jadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.