Monthly Archives: Januari 2016

Cara Mendidik Anak

Category : Kisah

SHOLAT JAMAAHDalam sebuah percakapan, seorang ibu berbincang dengan seorang temannya.
“Jeng, gimana ya caranya supaya anak saya itu jadi anak yang baik, anak yang nurut sama orang tua?”
“Emangnya kenapa, bu?”
“Anak saya yang perempuan itu lho, Jeng. Susah diatur. Maunya seenaknya sendiri. Disuruh belajar, banyak bantahnya. Disuruh sholat, selalu bilang nanti. Disuruh ngaji apalagi, susahnya bukan main”.
“Ooh, Si Sholihah bu”.
“Ya, anak yang pertama jeng. Padahal saya kasih nama sholihah biar dia jadi anak sholihah”.
“Emangnya sudah kelas berapa sekarang?”
“Udah besar jeng, sekarang sudah kelas 1 SMA”.
“Ooh…”
“Gimana ya jeng, caranya. Saya dan suami sudah sering memarahi dia, tapi tetap saja susah. Bahkan kadang saking kesalnya, suami sampai main tangan. Maunya nonton TV saja. Dari pulang sekolah sampai tidur, nongkrongnya di depan TV saja”.
“Tenang, bu. Tapi, sebelum saya kasih masukan, boleh saya nanya?”
“Tentang apa jeng?!”
“Ibu dan suami kalau sholat magrib jam berapa?”
“Sebenarnya, itu juga masalahnya jeng!”
“Maksud Ibu?!”
“Kalau saya sih kadang sholat magrib jam 18.30, kadang mendekati Isya”.
“Kalau suami! Sama bu?!”
“Ya itu masalahnya juga jeng. Suami saya selama ini jarang sholat”.
“Oh…pantes kalau gitu bu. Anak Ibu susah disuruh sama Ibu dan suami”.
“Maksud jeng?!”
“Gimana dia mau nurut sama Ibu dan bapak, kalau yang dia lihat selama ini bapaknya jarang sholat. Sholat yang wajib saja tidak dilakukan oleh suami ibu, apalagi hal-hal yang tidak wajib. Anak itu tergantung orang tua dan lingkungannya, Bu!”.
“Anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya, terutama apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Sekeras apapun tindakan kita kepada anak kita, kalau kita tidak mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari kita, maka semuanya tidak akan ada gunanya. Anak kita butuh teladan dari kita!”.

Berkorban untuk Haji

Category : Kisah

 DOASeorang jamaah menyampaikan kisah uniknya saat ia berusaha untuk bisa menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Saat niat dan keinginan untuk pergi ke Baitullah kian membuncah, sebut saja namanya Pak Soleh, mencoba untuk mencari informasi bagaimana caranya agar dia dan istrinya bisa mendapatkan undangan dari Allah untuk menunaikan ibadah haji.
Oleh karenanya dengan semangat yang menyala-nyala, di suatu pagi yang cukup sejuk, Pa Soleh mendatangi sebuah pesantren, menemui Sang Kyai. Setelah dipersilahkan duduk dan berbincang ringan mengenai kabar keluarga dan pekerjaannya, Pa Soleh lantas menyampaikan maksud dan tujuannya bersilaturahim dengan Pak Kyai.
“Begini Pak Kyai, Saya dan istri datang ke sini selain dengan maksud bersilaturahim dengan Pak Kyai, kami juga ingin sharing dengan Pak Kyai mengenai keinginan kami untuk bisa berangkat ke tanah suci. Kami ingin menunaikan ibadah haji. Cuma kami belum tahu bagaimana caranya agar kami bisa berangkat ke sana”, tanya Pa Soleh.
“Ongkosnya sudah ada?!, tanya Pak Kyai, agak mengejutkan Pa Soleh.
“Justru itulah masalahnya. Saat ini kami belum punya biaya untuk berangkat ke sana”.
“Benar begitu?” tanya Pak Kyai sambil mengerutkan dahi.
“Ya, begitulah kondisinya!”
“Betul tidak punya ongkos?!”, sergah Pak Kyai meyakinkan.
“Betul Pak Kyai, kami tidak punya biaya untuk kesana. Tapi kami betul-betul ingin berangkat haji”.
“Baik, kalau itu masalahnya. Saya akan kasih tahu caranya. Tetapi sebelum saya kasih tahu caranya saya ingin bertanya dulu kepada Pak Soleh”.
“Emangnya apa yang perlu saya jawab, Pak Kyai”
“Begini Pak Soleh!”
“Pak Soleh sekarang bekerja dimana?”
“Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar”.
“Sebagai apa?”
“Sebagai supervisor yang membawahi banyak staf”, jawab Pak Sholeh.
“Selama ini gaji yang diterima cukup?!”.
“Alhamdulillah Pak Kyai, dari gaji yang saya terima semua kebutuhan keluarga saya tercukupi”.
“Punya kendaraan?!”.
“Punya Pak Kyai”.
“Motor atau mobil?!”
“Dua-duanya punya, Pak Kyai”.
“Ooo…”, Pak Kyai mengernyitkan dahinya. Dan terdiam sejenak.
Semenit kemudian, dengan nada agak tinggi Pak Kyai berkata; “Kenapa Pak Soleh tadi bilang tidak punya biaya untuk pergi haji?! Padahal selama ini semua tercukupi. Motor punya!, Mobil punya!. Lantas tunggu apa lagi Pak?!”.
“Maksud Pak Kyai?”, Pak Soleh agak bingung, sambil melihat wajah istrinya yang juga nampak bingung.
“Sebenarnya Pak Soleh sudah bisa pergi haji. Biayanya sudah ada. Tetapi Pak Soleh ingin harta yang ada sekarang, yang dimiliki Pak Soleh sekarang tidak berkurang sama sekali, kan!.
Mendengar ucapan dari Pak Kyai tadi, Pak Soleh agak tersentak. Dalam hati, ia bergumam; “benar juga apa yang dikatakan Pak Kyai. Saya ingin pergi haji, tetapi saya tidak mau mengorbankan harta yang saya miliki untuk mendaftar haji. Padahal sebenarnya saya bisa”.
Astaghfirullahaladziim”, ucap Pak Soleh pelan.
“Itulah kita Pak Soleh, Manusia!. Kebanyakan manusia ingin agar semua keinginannya bisa terpenuhi, namun sangat sedikit yang mau berkorban!. Kita ingin menunaikan ibadah haji, tetapi kita tidak mau menyisihkan harta kita. Padahal itu adalah pemberian Allah, harta itu adalah titipan dari Allah!”, ujar Pak Kyai bersemangat.
“Lantas, apa yang harus kami lakukan, Pak Kyai?!”.
“Pak Soleh benar-benar ingin naik haji?!”, pak Kyai kembali menegaskan.
“Ya, Pak Kyai kami benar-benar ingin pergi haji”.
“Baik kalau begitu. Pak Soleh mau melakukan apa yang saya minta?”.
“Ya, Pak Kyai!”.
“Sepulang dari sini, jual mobil bapak!”.
“Maksud Pak Kyai??!”.
“Pak Soleh Jual mobil yang bapak punya, uangnya untuk ongkos naik haji!. Itu saran saya!”, tegas Pak Kyai.
“Baik Pak Kyai. Nasehat Pak Kyai akan kami lakukan. Terima kasih banyak, Pak Kyai”.
Sehari berikutnya, Pak Soleh mendatangi salah satu perusahaan koran yang cukup besar di kota itu. Pak Soleh memasang iklan untuk penjualan mobilnya.
Kurang lebih seminggu kemudian, iklan yang dipasang di koran itu membuahkan hasil. Salah seorang peminat mobilnya, mendatangi rumah Pak Soleh. Setelah bertemu dengan Pak Soleh dan melihat kondisi mobil Pak Soleh, si peminat mencoba bertanya kepada Pak Soleh.
“Berapa harganya Pak?”.
“lima puluh juta, Pak”.
“Bisa turun, Pak?”.
“Maaf, tidak bisa. Pas pak, lima puluh juta saja!”, jawab Pak Soleh.
“Sebelumnya mohon maaf pak, emangnya kenapa mobil ini dijual, Pak. Bukannya kondisinya masih bagus?”, tanya si peminat penasaran.
“Ya, betul. Kodisinya memang masih bagus. Sebenarnya saya juga masih suka mobil ini. Cuma saya dan istri pengen pergi haji, Pak”.
“0oo…Jadi uangnya untuk pergi haji?!!!”
“Betul, Pak”.
“Kalau gitu, saya enggak nawar lagi. Saya langsung bayarin. Deal lima puluh juta ya, Pak. Ini DP-nya 20 juta. Sisanya saya transfer. Besok siang bapak bisa cek di rekening bapak”, ucap si peminat bersemangat.
“Baik, Pak. Makasih banyak”.
“Alhamdulillah Ya Allah. Terima kasih atas pertolongan-Mu ini. Subhanallah!!!”, Pak Soleh sambil sujud syukur.
Keesokan harinya, setelah mengambil uang pelunasan mobilnya di Bank, Pak Soleh dan istrinya bergegas untuk mendaftarkan diri menjadi calon jamaah haji. Dan ternyata, Pak Soleh dan istrinya bisa berangkat haji tiga bulan ke depan pada tahun itu juga.
Dengan perasaan haru, iapun menceritakan kepada penulis bahwa sebulan kemudian setelah ia mendaftar haji, ia mendapatkan rezeki yang tidak disangka sebelumnya. Bonus dari kantor sejumlah uang yang besarnya dua kali lipat uang yang ia setorkan untuk ongkos naik haji. Subhanalllah !!! Engkau Memang Maha Besar dan Maha Kaya, Ya Allah…!!!.

Bisa Wakaf, Hanya dengan 50 Ribu

Category : Berita , WAKAF

WAKAF TUNAIDalam upaya mengentaskan kemiskinan, Zakat Center terus melakukan inovasi-inovasi program. Salah satu program yang sudah berjalan dan terus akan dikembangkan adalah program wakaf tunai.

Program wakaf tunai adalah program penghimpunan dana wakaf berupa uang. Dengan program ini, masyarakat tidak hanya bisa mewakafkan tanah atau bangunannya saja, tetapi mereka juga bisa melakukan ibadah wakaf dengan uang. Program ini diadakan untuk memfasilitasi masyarakat yang tidak memiliki tanah atau bangunan, untuk juga bisa menunaikan ibadah wakaf. Dana yang terhimpun dari program ini akan dikumpulkan dan digunakan untuk membeli sawah atau tanah yang bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

Zakat Center menawarkan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program ini. Karena saat ini Zakat Center sudah melaunching program wakaf tunai dengan donasi yang sangat terjangkau, yaitu dari mulai 50 ribu rupiah masyarakat bisa wakaf tanah seluas satu meter persegi untuk pesantren tahfidz Al-Quran terpadu di daerah Cisaat Dukuhpuntang Cirebon.


Zakat Center Motivasi Mitra Binaan

Category : Berita , PROGRAM EKONOMI

BINAAN
CIREBON- Ahad (17/01/16) Zakat Center kembali mengadakan pembinaan bulanan bagi penerima bantuan modal usaha mikro dan para guru TPA/MD/TK binaan. Ratusan mitra binaan hadir dalam acara yang berlangsung di MA Salafiyah Kanggraksan Cirebon itu. Para mitra binaan nampak antusias mengikuti acara yang bertema “Cara Meraih Kesuksesan Dunia Akhirat” ini.

Menurut Direktur Eksekutif Zakat Center, M. Anwar Musaddad, kegiatan pembinaan mitra binaan ini adalah bagian dari upaya membekali para penerima bantuan dengan ilmu dan pengetahuan yang bisa mengarahkan hidup mereka lebih baik.

“Kami ingin agar para penerima manfaat dari Zakat Center bisa berubah hidupnya menjadi lebih religius, lebih semangat dan lebih mandiri. Mereka harus bisa menjadi orang-orang yang bukan menjadi penerima saja, tetapi juga kelak dengan semangat dan usaha mereka, mereka bisa berdaya dan mandiri, bahkan bisa memberi. Oleh karenanya, di awal tahun ini kita datangkan trainer motivasi yang semoga bisa memotivasi para mitra binaan agar mereka bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat”, jelasnya. Semoga!!!



Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/advercom/public_html/zakatcenter.org/wp-includes/functions.php on line 3743