Fiqih

Menghitung Zakat Profesi

Kalkulator Zakat

Zakat Profesi

Zakat Profesi adalah zakat dari penghasilan atau pendapatan yang di dapat dari keahlian tertentu, seperti dokter, arsitek, guru, penjahit, da’I, mubaligh, pengrajin tangan, pegawai negri dan swasta. Penghasilan seperti ini di dalam literatur  fiqh sering disebut dengan al- mal al mustafad (harta yang didapat).

Adapun dasar diwajibkan zakat profesi adalah firman Allah SWT:

” Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang – orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” (Qs Adz Dzariyat : 19)

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah swt :

” Wahai orang-orang yang beriman bersedekahlah ( keluarkanlah zakat ) dari apa yang baik- baik dari apa yang kalian usahakan.” (Qs Al Baqarah : 267)

  • Ketentuan Zakat Profesi

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan cara mengeluarkan zakat profesi.

  • Pendapat Pertama, zakat  profesi ketentuannya diqiyaskan kepada zakat perdagangan, artinya nishab, kadar dan waktu mengeluarkannya sama dengan zakat perdagangan.  Nishabnya senilai 85 gram emas, kadarnya 2,5 persen dan waktu mengeluarkan setahun sekali setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Sebagai contoh : Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya
Rp. 10.000.000,- Kebutuhan pokoknya Rp 3.000.000,- maka cara penghitungan zakatnya adalah  :

Pendapatan – Pengeluaran

Rp 10.000.000, – Rp 3.000.000,- = Rp 7.000.000,-

Pendapatan Bersih dikalikan 12 Bulan

Rp 7.000.000,- x 12 bulan = Rp 84.000.000,-

Total pendapatan bersih dikali 2,5% (untuk zakat tahunan)

Rp 84.000.000 x 2,5 % = Rp. 2.100.000

Total pendapatan bersih dikali 2,5% dibagi 12 Bulan (untuk zakat Bulanan)

Rp 84.000.000 x 2,5 % / 12 Bulan = Rp. 175.000

  • Pendapat kedua, zakat profesi diqiyaskan kepada zakat pertanian. Artinya setiap orang yang mendapatkan uang dari profesinya langsung dikeluarkan zakatnya, tanpa menunggu satu tahun terlebih dahulu. Tetapi besarnya mengikuti zakat emas,
    yaitu 2,5 %.

Contoh : Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp 3.000.000,-, maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Pendapatan dikali 2,5%

Rp 3.000.000 x 2,5 % = 75.000,-

Kalau kita perhatikan contoh di atas, ada beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian. Pengeluaran perbulan adalah pengeluaran kebutuhan primer (sandang, pangan, papan). Untuk lebih menjaga kehati-hatian, Dr. Yusuf Qordhowi sangat menganjurkan untuk menghitung zakat dari pendapatan kotor (bruto).

 

Wallahu A’lam Bisshawab – dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.