Memahami Lebih Dalam Arti Zakat

Memahami Lebih Dalam Arti Zakat

Category : Fiqih

zakatDari segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti sesuatu itu tumbuh dan berkembang, dan orang itu zaka, berarti orang itu baik.
Menurut lisan al-Arab arti dasar dari kata zakat, ditinjau dari sudut bahasa, adalah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji (semuanya digunakan dalam Al-Quran dan Hadits).
Tetapi yang terkuat, menurut Imam Wahidi dan yang lainnya, kata dasar zaka berarti bertambah dan tumbuh, sehingga bisa dikatakan, tanaman itu zaka, artinya tanaman itu tumbuh. Bila satu tanaman tumbuh tanpa cacat, maka kata zaka di sini berarti bersih.
Dan bila seseorang diberi sifat zaka dalam arti baik, maka berarti orang itu lebih banyak mempunyai sifat baik. Seorang itu zaki, berarti seorang yang memiliki lebih banyak sifat-sifat orang baik.
Zakat dari segi istilah fikih berarti “sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak”, di samping arti “mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri”. Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat, karena yang dikeluarkan itu “menambah banyak, membuat lebih berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan.” demikian Imam Nawawi mengutip pendapat Imam Wahidi.
Ibnu Taimiah berkata, “Jiwa orang yang berzakat itu menjadi bersih dan kekayaannya akan bersih pula, bersih dan bertambah maknanya.”
Arti “tumbuh” dan “suci” tidak diterapkan hanya untuk kekayaan saja, tetapi lebih dari itu, juga diterapkan suci jiwa orang yang berzakat”.
Azhari berkata bahwa zakat juga menciptakan pertumbuhan terhadap orang-orang miskin. Zakat adalah cambuk ampuh yang membuat zakat tidak hanya menciptakan pertumbuhan material dan spiritual bagi orang-orang miskin, tetapi juga mengembangkan jiwa dan kekayaan orang-orang kaya.
Sedangkan dalam Al-Qur’an kata zakat dan dalam bentuk variannya disebutkan tiga puluh kali. Di antaranya dua puluh tujuh kali disebutkan dalam satu ayat bersama shalat, dan hanya satu kali disebutkan dalam konteks yang sama dengan shalat tetapi tidak di dalam satu ayat.
Bila diperiksa ketiga puluh kali kata zakat itu disebutkan dalam Al-Qur’an, delapan terdapat di dalam surat-surat yang turun di Makkah dan selebihnya di dalam surat-surat yang turun di Madinah.
(sumber: M. Yusuf Qardawu, Hukum Zakat; Study Komparatif mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Quran dan Hadis. h.34-38)


Leave a Reply

shares

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/advercom/public_html/zakatcenter.org/wp-includes/functions.php on line 3743