Kisah

Ibadah Mendekatkan Jodohku

doaAku niatkan sumbangsih tulisan ini semata-mata agar bisa mendatangkan manfaat buat semua, entah penulis sendiri maupun para pembaca. Bahkan aku berharap mudah-mudahan kisahku ini bisa menginspirasi buat semuanya, terutama yang sedang punya masalah -seberat apapun masalahnya-, khususon (lebih khusus lagi) yang saat ini sedang galau karena ingin segera menikah, namun jodoh tak kunjung datang.
Tak terasa, sudah hampir tujuh tahun aku meninggalkan kampusku. Setelah berhasil menyelesaikan studi Strata (S1), aku langsung pulang kembali ke kampung halamanku. Sebuah desa yang asri, nyaman dan tenang. Bisa jadi, ketenangan desaku itulah yang menjadikan aku terlena. Ya… terlena dengan rutinitas harian mengajar di salah satu TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang ada di desaku. Hingga aku sedikit melupakan kehidupan pribadiku. Aku baru tersadar beberapa bulan lagi usiaku akan menginjak angka 30, sementara diriku masih sendiri.
Tak bisa dipungkiri sebagai perempuan normal, aku sebenarnya malu terhadap lingkungan di sekitarku. Dengan usia yang sudah sangat dewasa, aku masih belum memiliki pendamping hidup. Apalagi dibandingkan perempuan-perempuan di desaku, hampir sebagian besar teman-teman seusiaku sudah memiliki suami, bahkan banyak yang sudah memiliki anak.
Bukan tak ada lelaki yang menyukai diriku, namun sering kali saat ada seseorang yang suka kepadaku dan akupun menyukainya dan berniat serius ke jenjang pernikahan, orang tuaku tak menyetujuinya. Kejadian inipun terjadi berulang kali. Entah mengapa orang tuaku selalu menolak pinangan lelaki yang ingin menjadikanku istri.
“Selalu begitu!!!”, gerutuku dalam hati, setiap ada teman lelakiku yang serius ingin meminangku, pada saat itu pula selalu ditolak sama orang tuaku. “Ya, mungkin itulah nasibku!!. Mungkin itulah suratan takdir yang harus aku jalani”, benakku selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya akupun pasrah. Hingga beberapa tahun belakangan ini akupun tak begitu memusingkannya.
Namun, pikiran seperti itu sedikit demi sedikit mulai hilang dalam benakku, tatkala aku sharing dengan seorang ustadzah tentang masalahku. Ia menyarankan agar aku jangan putus asa. “Sesuatu yang baik itu harus diperjuangkan, apalagi ini ibadah!. Nikah itu ibadah!!”, tegasnya menyemangatiku.
“Terus, aku harus bagaimana?!” tanyaku kepadanya.
Dengan semangat, ustadzah di kampungku ini menyarankan kepadaku untuk benar-benar menjaga ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Dari mulai sholat lima waktu hingga sholat dhuha sampai tahajud harus konsisten setiap hari dilakukan. Sambil terus meminta kepada Allah agar dimudahkan dalam semua urusan, termasuk masalah jodoh.
Ia pun menyampaikan kepadaku untuk mengistiqomahkan sedekah. “Setiap ada kesempatan berbagilah. Jangan ragu-ragu bersedekah, karena sedekah mendatangkan rejeki. Rejeki apapun itu, termasuk rezeki datangnya jodoh!”, tuturnya.
Setelah mendengarkan nasihat itu, akupun baru tersadar. Mungkin jodohku agak jauh karena selama ini aku jauh dengan Allah. Dzat Yang Maha Pemberi. Pemberi apapun itu, termasuk jodoh. “Ya…walaupun aku tak pernah meninggalkan sholat lima waktu, tetapi aku sering lalai menjalankan sunah-sunnahNya. Jangankan tahajud di malam hari, sholat dhuha di pagi hari saja sering aku tinggalkan. Pernah sih sedekah, tetapi itupun jarang kulakukan. Subhanallah!!!, kenapa baru sekarang aku menyadarinya??!.Tapi, tak ada kata terlambat untuk suatu kebaikan!”. gumamku dalam hati.
Sejak itulah aku coba kuatkan dalam hati untuk istiqomah melakukan ibadah-ibadah sunnah tadi. Dan tanpa terasa sudah sepuluh bulan aku mampu lakukan secara konsisten. Hingga akhirnya pada bulan ini aku benar-benar bersyukur atas anugerah-Nya, karena dipertengahan bulan ini aku bisa bersanding dengan pujaan hatiku di pelaminan, menjadi pengantin baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.