Fiqih

Hubungan Zakat dengan Shalat

Fiqh Zakat
Fiqh Zakat

Pada dasarnya, kepentingan ibadah shalat tidak dimaksudkan untuk mengurangi arti penting zakat, karena sholat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah (Hablu min Allah), sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia (Hablu min An-Naas).
Al Quran, sebagai pedoman hidup orang Islam, secara tegas telah memerintahkan pelaksanaan zakat. Menurut catatan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, dalam bukunya Pedoman Zakat, terdapat 30 kali penyebutan kata zakat secara ma’rifah di dalam Al Quran, bahkan kewajiban zakat seringkali beriringan dengan perintah sholat, seperti misalnya: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS: Al Baqarah ayat 43).
Penjelasan kewajiban zakat bergandengan dengan perintah sholat terdapat pada 28 ayat Al Quran. Dengan demikian, menurut sebagian ulama besar, jika sholat adalah tiang agama, maka zakat adalah mercusuar agama atau dengan kata lain sholat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia, sedangkan zakat dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia.
Para Ulama semenjak zaman sahabat sudah memperingatkan satu hal penting, yaitu bahwa Al-Qur’an selalu menghubungkan zakat dengan shalat, dan jarang sekali dihubungkan selain dengan shalat.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalat baginya.”
Ibnu Zaid berkata, “shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah.” Kemudian ia membaca: Bila mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan membayar zakat, barulah mereka teman kalian seagama. “Shalat tidak akan diterima tanpa zakat. Selamat bagi Abu Bakar yang mengerti benar tentang masalah ini, dalam hal ini Abu Bakar berpendapat, “Saya tidak memisah-misahkan dua hal yang disatukan sendiri oleh Allah !”
Di dalam Al-Qur’an juga di jelaskan: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah: 18). Dengan demikian mereka belum bisa memperoleh restu Allah, sekalipun mereka memakmurkan masjid-masjid-Nya, sebelum mereka beriman, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

(M. Yusuf Qardawi: Hukum Zakat, h. 63-64)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.